Sabtu, 21 Februari 2015

Lapar

Perkara Lapar

Oleh TOTO RAHARDJO

• 27 Maret 2013

Dipublikasikan dengan tag Esai
Share:
Facebook
Twitter
Google+

Kalau LAPAR itu pasti akibat tidak atau belum makan. Perkaranya adalah kenapa tidak atau belum makan?

Kalau tidak makan disebabkan karena puasa atau diet itu karena unsur niat, disengaja.

Ada pula tidak atau belum makan dikarenakan lupa, sangking asyieknya sedang melakukan aktifitas tertentu sehingga pada waktunya makan tidak dilakukannya — hal semacam ini juga tak bisa menyalahkan pihak lain, tidak makan karena kealpaan yang terjadi pada dirinya sendiri itu pasti merupakan
kesalahan dirinya sendiri, bisa saja menyalahkan orang-orang disekitarnya, kenapa tidak mengingatkan untuk makan karena sudah waktunya makan?

Yang justru wajib dipersoalkan apabila ada orang kelaparan disebabkan karena memang tidak ada pangan yang harus dimakannya.

Ini belum mempersoalkan apa makanan yang dimakan; bagaimana kandungan gizi, nutrisi, higienis — sehat apa tidak?

Darimana asal-usul makanannya?

Itu makanan pabrikan apa makanan lokal?

Makanan import yang penuh dengan bahan pengawet?

Atau makanan yang berasal dari bahan-bahan hasil rekayasa genetika yang tidak pernah jelas status keamanannya?

Bagi golongan yang anti babi apakah yakin bahwa apa yang dimakan sama sekali tak ada unsur babinya?

Karena ada banyak tanaman hasil rekayasa yang
menggunakan gen babi.

Hal lain lagi, apakah sudah jelas apa yang kita makan sungguh-sungguh berasal dari bahan makanan yang
bukan hasil dari penyelundupan?

Apakah apa yang kita makan yakin bukan dari hasil colongan (mencuri) bahkan dari hasil korupsi?

Masih bisa dideretkan lagi beribu-ribu pertanyaan….
Kembali pada pertanyaan; “Mengapa ada orang atau pihak yang tengah kelaparan, karena tidak ada yang dimakan?”

Ternyata untuk menjawab pertanyaan itu ada dua golongan yang berbeda menjawabnya.

Golongan pertama menanggapi bahwa kenapa itu terjadi karena orang-orang yang tengah kelaparan itu memang pada dasarnya tingkat pendidikan rendah, maka dari itu mereka miskin ditambah lagi motivasi kerja rendah (boleh dikata malas kerja).

Golongan kedua berkeyakinan, mengapa ada orang-orang yang kelaparan itu disebabkan karena ada pihak-pihak yang sangat rakus makan, maka ada pihak lain yang tidak kebagian jatahnya.

Hal di atas sebetulnya bukan hanya melulu soal pangan, coba seandainya “kelaparan” diganti dengan “kemiskinan”, pasti tidak jauh berbeda, karena ini sangat terkait dengan cara berfikir. Padahal cara berfikir yang akan menjadi pemandu tindakan (boleh dikata ini ilmu pasti).

Cara berfikir golongan pertama sangat jelas bahwa yang dipersalahkan malah orang yang sedang mengalami kelaparan — sudah jadi korban dipersalahkan pula (blaming the victim), boleh dibilang golongan pertama, sejak dari pikirannya saja sudah menyalahkan korban. Kira-kira cara berfikir semacam ini akan memandu pilihan tindakan seperti apa?

Yang pasti apapun pilihan tindakan (tema, metode,
strategi), sasaran objeknya adalah si korban.

Anggapan bahwa sikorban itu yang bermasalah.
Seandainya si korban adalah mobil pasti sudah
dibawa ke bengkel untuk diperbaiki.

Paling-paling akan ada sekian program untuk orang-
orang yang sedang kelaparan itu, misalnya;
program training motivasi, dakwah, bantuan makanan, tambahan makanan gizi sesaat dan tindakan karitatif lainnya.

Coba Anda bayangkan seandainya yang memiliki cara pandang demikian adalah orang atau pihak yang memiliki kekuasaan?

Bagi golongan kedua, jelas cara pandangnya terbalik dari cara pandang golongan pertama.

Golongan kedua sama sekali tidak berani menyalahkan mereka yang tengah kelaparan, atau kaum miskin pada umumnya. Namun melihat dengan seksama;

“apa yang keliru, kenapa ada seseorang yang tidak kebagian jatahnya?”,

“apakah ada aturan main yang mempermudah pihak-pihak dengan leluasa mengambil jatah orang lain?”

Mengambil jatah orang lain dalam ukuran besar
bisa disebut menguasai, mencuri, korupsi.

Menguasai sumber daya alam, mengkorup anggaran untuk kesejahteraan rakyat, menimbun barang-barang kebutuhan masyarakat.

Golongan ini tidak melihat bahwa kelaparan atau
kemiskinan pada umumnya terkait dengan pendidikan rendah, dengan rendahnya motivasi.

Yang mendasar bahwa ada sistem yang tidak adil yang mempermudah para pencuri sehingga melahirkan kelaparan dan kemiskinan masyarakat berkepanjangan.

Maka bagi aliran ini;
kelaparan ataupun kemiskinan adalah akibat dari ketidakadilan, akibat dari sistem yang mempersilahkan orang-orang atau pihak-pihak leluasa untuk mengumbar hasrat keserakahannya, membiarkan akhlak “perilaku makan” kanibalisme — makan tidak sederhana sekadar mengisi perut karena lapar.

Namun kepentingan makan ternyata dipengaruhi oleh
nafsu kerakusan untuk menguasai kehidupan manusia.

Kembali Urusan Pangan “Sangat jelas bahwa persoalan kelaparan bukan disebabkan karena kekurangan bahan pangan, namun lebih pada ketiadaan akses atas bahan pangan, terutama bagi kalangan penduduk miskin”.

Statemen yang dilontarkan pada tahun 1982 oleh Institute for Food & Development Policy yang berbasis di Oakland, California lalu diterbitkan dalam buku karya Frances Moor Lappe, Peter Rosset dan Joseph Collins dengan judul: World Hunger: Twelve Myths (Kelaparan
Dunia: Dua Belas Mitos).

Masalah pangan menjadi topik penting dalam agenda kebijakan ekonomi dan politik dunia, sesuatu yang sebelumnya dianggap sebagai urusan “teknis pertanian” belaka.

Singkat kata, persoalan pangan dan kekurangan pangan — serta kelaparan, kekurangan gizi, kematian yang diakibatkannya — adalah persoalan politik-
ekonomi yang lebih banyak ditentukan di belakang meja para politisi dan pembuat kebijakan, ketimbang di laboratorium atau di ladang-ladang percobaan para pakar pertanian.

Di belakang mereka semua adalah para pemilik modal raksasa, penguasa industri pangan dan kimia pertanian yang membiayai mereka, termasuk dalam rangka mengembangkan tentang mitos kelangkaan bahan pangan.

Menanam kebaikan

Kebaikan Menanam Kebaikan

oleh REDAKSI MANEGES QUDROH REPORTASE MANEGES QUDROH EDISI FEBRUARI 2015

HUJAN DERAS YANG mengguyur kota Muntilan sejak
sore hari 7 Februari 2015 masih menyisakan gerimis dan udara dingin yang menusuk tulang.

Namun demi mencari dan menggali ilmu, dulur-dulur Maiyah Maneges Qudroh tetap bersemangat mempersiapkan acara sarasehan yang telah direncanakan malam itu.

Bertempat di Pendopo Kecamatan Muntilan, pukul 20.30 WIB acara dimulai dengan nderes Quran oleh Mas Adi. Jamaah pun mulai berdatangan. Karena suasana sudah cukup menghangat, Eko Mulyono segera membuka acara dengan mengajak hadirin bersholawat.

Selanjutnya sebagai moderator, Pak Dadik membuka
forum dengan menghantarkan cerita tentang pohon
yang menjadi teman intim seorang anak kecil saat
bermain hingga si anak kecil menjadi dewasa, sang
pohon tetap memberi manfaatnya berupa buah, batang
kayu hingga akarnya kepada anak di kelak kemudian
harinya, meskipun pohon tersebut sudah semakin
diabaikan seiring dewasanya si anak. Pohon tidak egois.

Demikian pengantar Pak Dadik yang kemudian langsung melemparkan tema kepada narasumber dari dinas pertanian, Bapak Eko Widhi.

Bapak Eko mengawali dengan sudut pandang beliau
sebagai praktisi tanam-menanam dengan mengambil
contoh pohon bambu. Tanaman bambu yang banyak di
sekitar kita adalah cara alam memberi pembelajaran
kepada manusia. Tak dapat dipungkiri bahwa tanaman
bambu sudah lazim digunakan untuk berbagai macam
bahan baku kerajinan tangan, seperti mebel, keranjang,
bahkan berbagai macam alat musik. Hal itu merupakan
bukti bahwa bambu sangat lekat dengan kehidupan
masyarakat nusantara. Namun sayangnya hari ini tidak
banyak dari kita yang berinisiatif menanamnya.

Beliau juga menyuplik cerita tentang pohon mahoni di
sebuah desa yang nampak gagah menjulang, sementara tak jauh dari sana tumbuh serumpun kecil pohon bambu. Keduanya saling berbincang setiap hari. Pohon mahoni selalu menyombongkan dirinya yang besar dan gagah. Akan tetapi pohon bambu hanya selalu memberi pujian setulus hati.

Hingga suatu malam hujan deras disertai angin kencang membuat pohon mahoni bertahan sekuat tenaga namun akhirnya tumbang. Berbeda dengan bambu yang mengikuti arah tiupan angin hingga hujan reda. Si bambu tetap berdiri di atas tanah.

Artinya, dalam pencapaian sukses, manusia selalu
dihadapkan oleh realitas masalah yang selalu datang
silih berganti. Untuk itu kita harus menghadapinya
dengan fleksibel sebagaimana bambu. Sebab jika kita
bersikap kaku, merasa diri paling hebat dan kuat,
niscaya kita akan tumbang seperti mahoni.

Menambahi yang disampaikan Pak Eko, Mas Anang
mengutip pepetah-pepatah orang dulu.

Jika ingin hidup 1 tahun tanamlah buah-buahan.
Jika ingin hidup 10 tahun tanamlah pepohonan
Jika ingin hidup selamanya tanamlah kebaikan

Sebagaimana Rasulullah dulu hanya berbuat kebaikan
saja secara terus menerus, maka kita saksikan sekarang beliau tetap ‘hidup’. Namanya abadi. Maka di Maiyah, kita seyogyanya berbuat baiklah saja terus menerus.

Mas Joko dari Pekalongan ikut merespon.

Sekarang ini untuk melakukan kebaikan saja kita sudah tidak punya parameter yang jelas.

Contohnya saja di daerah asal Mas Joko, ada sekelompok Gento yang membuat gebrakan berupa kebaikan sering masih dianggap sebelah mata oleh orang-orang sesepuh atau tokoh agama di sekitarnya.

Misalnya saja, pameo ‘ bocah wingi sore’ kadang masih disematkan pada sekelompok orang yang dianggap kurang pas terhadap apa yang dilakukannya.

Esensinya, bahwa ketika kita berbuat kebajikan itu
adalah investasi nilai. Tidak usah berpikir memetik
hasilnya.

Kalau Maneges Qudroh terus membuat kebaikan demi kebaikan pasti tidak akan sia-sia. Kita ini dilatih berpuasa. Hasilnya biar anak cucu kita yang menikmati.

Malam itu diskusi cukup hangat. Dan apa yang
didiskusikan semakin mengerucut. Setelah sedikit
session tanya jawab, Pak Ida yang datang membawa
gitar, melakukan perform secara spontan membawakan lagu tentang alam.

Setidaknya malam itu membuahkan catatan penting,
bahwa berbuat kebaikan (tentu indah dan juga benar -
red) cukuplah dilakukan dengan terus menerus dengan
penuh keteguhan hati tapi tidak kaku sebagaimana
pohon bambu.

Niscaya semua itu tidak sia-sia.

Acara ditutup dengan pemotongan tumpeng ulang tahunMQ ke-4 oleh Mas Anang. Semoga MQ ke depan tetap
istiqamah meski segala kekurangan senantiasa
menyertai.

Senada dengan kata-kata Simbah,
“Temukan kebahagiaan menanam sebagaimana kebahagiaan saat memetik”.∎

[TEKS: WAHYU ESBE]

Presiden malioboro

Untuk Umbu Presiden Malioboro

Oleh MUHAMMAD AINUN NADJIB

• 17 Desember 2012

Dipublikasikan dengan tag Esai , Puisi
Share:
Facebook
Twitter
Google+
Malioboro

Syukur kepada Tuhan yang memperkenankan saya berjumpa dengan Umbu Landu Paranggi. Satu-satunya orang yang pernah digelari sebagai Presiden Malioboro oleh media massa, kalangan intelektual, aktivis kebudayaan 42 tahun yang lalu.

Di zaman ketika orang masih mengerti bagaimana menghormati keindahan. Di kurun waktu tatkala manusia masih punya perhatian yang jujur kepada rohani, masih menjunjung kebaikan dan masih percaya kepada kebenaran.

Kemudian sebagai “jebolan Universitas Malioboro”,
hampir setengah abad saya lalui jalan sesat, dan kini
saya terjebak di kurungan peradaban di mana manusia mengimani kehebatan, bertengkar memperebutkan
kekuasaan, mentuhankan harta benda, bersimpuh kepada kemenangan, serta memompa-mompa diri untuk mencapai suatu keadaan yang mereka sangka keunggulan.

Secara teknis saya mengenal Umbu sebagai pemegang rubrik puisi dan sastra di Mingguan “Pelopor Yogya” yang berkantor di ujung utara Jl Malioboro Yogyakarta. Bersama ratusan teman- teman yang belajar nulis puisi dan karya sastra, kami bergabung dalam “Persada Studi Klub”.

Puluhan tahun kemudian saya menyadari bahwa saya tidak berbakat menjadi penyair, dan ternyata yang saya pelajari dari Umbu bukanlah penulisan puisi, melainkan “Kehidupan Puisi” – demikian menurut idiom Umbu sendiri.

Antara Tugu hingga Kraton, terdapat empat (4) jalan. Pertama, Margoutomo. Terusannya, sesudah rel KA, bernama Malioboro .  Jalan lanjutannya adalah Margomulyo.  Kemudian dari Kantor Pos hingga Kraton adalah Jalan Pangurakan . Sekarang jalan itu bernama Jl. Mangkubumi dan Jl. Jendral Ahmad Yani:

wacananya, filosofinya, kesadaran sejarahnya, sudah mengalami perubahan dan penyempitan, dari falsafah karakter manusia ke catatan romantisme sejarah.

Hari ini bahkan Malioboro adalah pariwisata, kapitalisme dan hedonism pop .

Wali Pengembara

Ketika berdiri, kepemimpinan kesultanan Yogya
meyakini bahwa setiap manusia sebaiknya memastikan dirinya menempuh “jalan utama”.

Tafsir atas “jalan utama” sangat banyak.
Bisa pengutamaan akal dan budi, bukan menomersatukan pencapaian kekuasaan,
kesejahteraan ekonomi atau eksistensialisme “ngelmu katon” alias kemasyhuran yang pop dan industrial.

Bisa juga jalan utama adalah
“berbadan sehat, berbudi tinggi, berpengetahuan
luas, berpikiran bebas”, atau apapun yang intinya memaksimalkan peran kemanusiaan untuk fungsi “rahmat bagi seluruh alam semesta”.

Untuk menguji diri dalam pilihan jalan utama, maka “ Malio-boro ”. “Malio” artinya “jadilah Wali”, mengelola posisi kekhalifahan, menjadi wakil Tuhan untuk memperindah dunia, “ mamayu hayuning bawana ”.

Malioboro artinya
jadilah Wali yang mengembara (“ boro ”):
mengeksplorasi potensi-potensi kemanusiaan,
penjelajahan intelektual, eksperimentasi kreatif,
berkelana di langit ruhani. Nanti akan tiba di jalan kemuliaan (Margo-mulyo).

Dalam idiom Islam, yang diperoleh bukan hanya ilham
(inspirasi) dari Tuhan, tapi juga fadhilah (kelebihan), ma’unah (keistimewaan) dan karomah (kemuliaan).

Di ujung jalan Margomulyo, orang menapaki Pangurakan. Jiwanya sudah “urakan” (ingat Perkemahan Kaum Urakan-nya Rendra di awal 1970an?):
sudah berani mentalak kepentingan dunia dari hatinya, “ ya dunya ghurri ghoiri, laqat thalaqtuka tsalatsatan ”: wahai dunia, rayulah yang selain aku saja, sebab kamu sudah kutalak- tiga. Bahkan “diri sendiri” sudah ditalak, karena “diri sejati” adalah kesediaannya untuk berbagi,
kerelaannya untuk menomersatukan orang banyak.

Parameter manusia bukanlah “siapa dia”, melainkan “seberapa pengabdiannya kepada sesama”.

Memilih Presiden 2014 sangat mudah:

pandangi wajahnya dan pelajari perilaku hidupnya,
apakah penempuh jalan Margoutomo, Malioboro dan Margomulyo.

Raja-raja sejati nenek moyang kita mengakhiri hidupnya dengan merohanikan diri, menjadi Begawan, Pandita, Panembahan.

Raja yang sibuk mengatur agar penguasa berikutnya adalah sanak familinya, tidak punya kwalitas memasuki jiwa Pangurakan, karena memang tidak pernah memilih jalan utama, mewali-pengembara sehinga lolos masuk jalan mulia.

Kekasih Umbu Ah, tetapi itu terlalu muluk. Untuk Presiden Malioboro ini saya kembali saja ke sesuatu yang kecil dan sepele.

Menjelang tengah malam, di tahun 1973, Umbu datang ke kamar kost saya dan mengajak pergi. Sebagaimana biasa saya langsung tancap, berjalan cepat mengejar langkah Umbu yang panjang-panjang. Hampir tiap malam kami jalan kaki menempuh sekitar 15 sd 20 km di jalanan Yogya.

Sebulan dua bulan sekali kami mengukur jarak Yogya ke Magelang, ke Klaten, ke Wates, ke Parangtritis, dengan jalan kaki. Atau duduk saja di trotoar sesudah toko-toko tutup hingga pagi para pelajar berangkat sekolah.

Umbu mengajak saya “ mlaku”, bukan “ mlaku-mlaku” .

“Jalan”, bukan “jalan-jalan”.

Ada beda sangat besar antara “ngepit” dengan “pit-pitan”, antara naik sepeda dengan bareng-bareng
bersepeda gembira.

Sangat beda antara bekerja dengan hiburan,
antara berjuang dengan iseng- iseng,
antara makan beneran dengan mencicipi,
antara jalan kaki sunggugan dengan jalan-jalan.

Kalau pakai konsep waktu:
yang satu menghayati, lainnya melompat.
Yang satu mendalami, lainnya menerobos.
Yang satu merenungi, lainnya memenggal.

Harian lokal Yogya pernah memuat foto sangat besar almarhum Prof. Dr. Umar Kayam di halaman depan sedang naik sepeda, menempuh jarak 150 meter dari Bulaksumur B-12 ke kantornya di E-12.

Pak Bon kantor menyongsong juragannya, menyodorkan koran itu dan nyeletuk:
“Bapak ampuh tenan. Baru mulai kemarin naik sepeda ke kantor sudah keluar di koran. Kok saya sudah 30 tahun lebih naik sepeda 30-an km tiap hari pulang pergi dari Gunung Kidul ke kantor, kok ndak masuk koran
ya Pak..”

Maklumlah Pak Bon tidak mengerti apa-apa tentang jurnalisme. Sambil jalan kaki dengan Umbu saya tersenyum-senyum sendiri kalau ingat protesnya Pak Bon.

Malam itu Umbu menerobos Keraton Yogya bagian tengah dari arah barat, menempuh sekitar 3 km, Umbu mengajak berhenti di warung kecil seberang THR. Duduk. Pesan teh nasgithel, berjam-jam tidak bicara sepatah katapun, ah-uh-ah-uh sendiri-sendiri, hingga
pukul empat fajar hari.

Beberapa kali dengan dua jari Umbu mengambil batangan rokok di kedalaman sakunya tanpa menoleh ke saya — jangankan mengeluarkan bungkusnya dan
menawarkan agar saya juga menikmatinya.

Ketika jam empat tiba, Umbu bergumam lirih, “Coba lihat keluar, Em….”.
Saya bertanya, “Lihat apa, Mas?”,
dia menjawab, “Perhatikan nanti ada Bis Malam dari Malang masuk Yogya….”.

Saya melompat keluar, berdiri, berjaga-jaga di tepi
jalan. Sebab saya mengerti, “Bus” nya tidak penting, tapi “kota Malang” itu sakral baginya. Ia berkait erat dengan kekasih hatinya.

Umbu sedang sangat jatuh cinta kepada seorang
pelukis mahasiswi ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) asal Malang, gadis hitam manis, kurus, bergigi gingsul. Umbu mengambil saya sebagai tenaga outsourcing gratisan untuk mengerjakan program-program cintanya.

Jobdescription saya mengamati rumah tempat ia
kost, posisi kamarnya, arah pintunya, route kegiatannya, dan yang terpenting meneliti apakah si gadis pernah memakai rok. Sebab rata-rata pelukis wanita berpakaian lelaki. Kalau sempat melihatnya pakai rok, harus didata apakah maksi, midi ataukah mini.

Ketika pada suatu malam Minggu saya diperintahkan untuk bertamu ke rumah gadis itu sebagai “Duta Cinta”,
jauh malam sesudahnya saya diinterogasi:

“Apakah dia nemuin Emha pakai rok?
Bagaimana bentuk kakinya?”

Ketika mendadak Bis Malam “AA” meluncur dari arah selatan, saya kaget. Langsung saya teriak dan berlari memberitahu Umbu. Tapi dia tidak menunjukkan perilaku seperti lelaki yang jatuh cinta dan rela berjam-jam menunggu kekasihnya tiba. Di dalam warung Umbu tetap menundukkan wajah, mengisap rokok, tidak bereaksi kepada teriakan saya. Justru ketika suara bis menderu, wajahnya makin menunduk.

Semula saya pikir si kekasih akan turun di depan THR karena kencan dengan Umbu. Ternyata kemudian saya ketahui bahwa si kekasih bukan sedang naik bis dari Malang ke Yogya. Umbu hanya menikmati nuansa bahwa jalur Malang-Yogya itu paralel dengan jalur cinta yang sedang dialaminya. Ia cukup mendengar suara bus itu lewat, cukup baginya untuk menghadirkan kekhusyukan cintanya. Begitu bus sudah lewat, Umbu mengajak saya pulang, dia ke ujung
Malioboro utara, saya balik ke barat Keraton.

Beberapa hari kemudian Umbu memerintahkan agar saya beli tiket bus malam Yogya-Malang pp. Saya mengantarkannya sampai bus berangkat. Dia melaju. Subuh tiba di Malang, Umbu turun sebelum Tugu masuk pusat kota Malang. Jalan kaki masuk ke wilayah timur. Melintasi Jl Diponegoro, di situ rumah sang kekasih.

Berjalan cepat, menundukan wajah, tidak sesekonpun
berani menoleh ke rumah si gadis pujaan.

Kemudian berputar balik ke jalan besar, mencegat bis menuju Surabaya, terus ke Yogya.

Sorenya sudah datang lagi ke tempat kost saya:
duduk, ah-uh-ah-uh, mengambil batang demi batang rokok dari sakunya dengan jepitan dua jari-jarinya. Tak ada kata tak ada huruf hingga pagi.

“Kehidupan Puisi”

Beberapa tahun kemudian Umbu pindah tinggal di Bali. Demikian juga si kekasih rohaninya, diperistri oleh seorang tokoh di Bali, kelak Tuhan memanggilnya ketika bermain surfing di pantai, sebagaimana Umbu sepanjang hidupnya “ surfing ” di atas gelombang demi gelombang, tanpa pernah mungkin bertempat tinggal di atas gemuruh lautan.

Siapapun pasti menyebut percintaan Umbu itu “platonik”, pengkhayal, hidup tidak di dunia nyata. Dunia yang gegap gempita ini memang tidak nyata bagi Umbu. Maka ia tidak pernah memburu wanita itu untuk disentuh dan diperistrikannya.

Sampai hari ini Umbu mengayomi anak-anak muda belajar menulis puisi, tapi Umbu sendiri menjauhi eksistensi sebagai penyair.

Di tahun 1973 puluhan puisinya akan dimuat oleh Majalah “Horizon” elite media sastra di era 1970an: Umbu diam-diam masuk ke percetakan di mana majalah itu dicetak, mencuri puisi-puisinya sendiri, dan menyembunyikannya sampai hari ini. Umbu sangat curiga kepada kemasyhuran dan popularitas.

Sejak 50 tahun silam meninggalkan harta kekayaan dan kekuasaannya sebagai “Pangeran” di Sumba. Di pinggiran Denpasar ia menempati rumah tepi hutan karena ia menghormati temannya yang membikinkan rumah itu.

Umbu tiap saat berjalan kaki menjauh dari segala
sesuatu yang semua orang di muka bumi mengejarnya. Ia menyebut seluruh keputusannya itu dengan idiom “kehidupan puisi”. Saya mengenalinya sebagai “zuhud”: berpuasa dari kemewahan dan gegap gempita dunia. Ia
meninggalkan harta, kekuasaan, wanita, kemasyhuran dan menyimpan uang dalam bungkusan plastik dipendam di tanah.

Saya bukan siapa-siapa di dunia, tetapi kapan ada yang tanya siapa Guru saya, baru nama Umbu yang pernah saya sebut.

Puluhan tahun saya berkeliling berjumpa dengan jutaan orang. Rata-rata mereka adalah orang memperlakukan saya sebagai keranjang sampah untuk
mengeluhkan dunia, membuang kesedihan dan
frustrasi, menumpahkan kebingungan dan rasa
tertekan oleh keadaan-keadaan dunia yang menindas mereka.

Kecuali Umbu:
ia bahagia dan khusyu dalam kesunyian dan “ketiadaan”nya.

Di mana-mana sajapun orang riuh rendah mengejar dunia, tetapi di mana-manapun saja orang ribut curhat tentang dunia.

Ke manapun saya pergi, ke delapan penjuru angin, dari
bawah sampai atas, pada segmen dan level sosial
yang manapun, yang terutama saya dengar dan
disampaikan kepada saya adalah keluhan-keluhan tentang dunia:
kemiskinan, kesulitan mencari nafkah, susahnya dapat kerjaan, seretnya usaha.

Terkadang saya balik tanya, dengan terminologi Agama:

“Lha kamu hidup ini mencari dunia atau akhirat?”.

Kalau ia menjawab “mencari dunia”, saya tuding “salahmu sendiri dunia kok dijadikan tujuan”.

Kalau jawabannya “mencari akhirat”, saya katakan “kalau kamu mencari akhirat kenapa mengeluhkan dunia”. Kan sudah jelas sejak dahulu kala bahwa “urip ming mampir ngombe” , hidup hanya mampir minum. Namanya juga mampir, singgah sejenak, bukan bertempat tinggal.

Sudah jelas dunia hanya tempat persinggahan sementara di tengah perjalanan, kok disangka kampung halaman.

Sayangnya Tuhan menyatakan – dan mungkin
memang sengaja menskenario demikian —
“kebanyakan manusia tidak mau berpikir”, atau
minimal “banyak di antara manusia yang tidak
menggunakan akal”.

Karena kemalasan mengolah logika dan sistem ratio, orang menyangka “dunia” dan “akhirat” itu dua hal
yang berpolarisasi, berjarak dan bahkan bertentangan.

Orang ketakutan menyikapi dunia kritis karena mengira kalau mencari akhirat maka tak mendapatkan dunia.

Orang mengira kalau tidak habis-habisan kejar uang maka ia tidak memperoleh uang.

Mengejar uang adalah pekerjaan dunia, pekerjaan paling rendah.

Bekerja keras adalah pekerjaan akhirat, di mana dunia adalah salah satu tahap persinggahannya untuk diolah.
Orang yang fokusnya bekerja keras memperoleh lebih
banyak uang dibanding orang yang fokusnya
adalah mengejar uang.

Orang yang yang mencari dunia, mungkin mendapatkan dunia, mungkin tidak.

Orang yang mengerjakan akhirat, ia pasti dapat akhirat dan pasti memperoleh dunia.

Begitu kumuh dan joroknya situasi ummat manusia berebut dunia. Dan begitu indah dan bercahayanya “kehidupan puisi” Umbu.

Suatu hari saya mohon izin untuk membuktikan bahwa
keindahan sesungguhnya adalah puncak kebenaran dan kebaikan.

Peradaban manusia sampai hari ini menjalankan salah sangka yang luar biasa terhadap keindahan.

Sabtu, 29 November 2014

Garam kok asin

Garam Kok Asin
Oleh MUHAMMAD AINUN NADJIB • 12 November 2014
Dipublikasikan dengan tag Esai
Share:
Facebook
Twitter
Google+
Seorang tokoh senirupa mengemukakan
kepadaku bahwa pesawat televisi adalah benda
magis. Sebutan kotak ajaib baginya bukan main-
main, sebab bagaimana mungkin dari kaca itu
muncul gambar.
Aku gemar pada getaran
dan selalu terangsang oleh
segala sesuatu yang
mungkin bisa membuatku
tergetar. Hal televisi itu
memang benar merupakan
suatu pengalaman magis
bagi sang senirupawan
(dunia subjektif), tapi
(dunia obyektif) ia bisa dibongkar oleh
penjelasan ‘ilmu pengetahuan biasa’ yang
membuktikan kepadanya bahwa televisi itu
bukan peristiwa magis.
Demikian juga ketika seorang tokoh sastrawan
merasa takjub menyaksikan sepeda motor dislah
lantas berbunyi menderu-deru sambil
mengeluarkan asap. Ia mengemukakan bahwa itu
mistis. Penjelasan ‘ilmu pengetahuan biasa’ akan
menggugurkannya.
Seorang piawi lain memberitahukan bahwa
contoh peristiwa magis misalnya ialah tenung
dan santet. Bagaimana mungkin engkau
memasukkan keranjang ke dalam perut saingan
dagangmu, menyusupkan sekeping emas ke pipi
agar orang jatuh cinta, atau membentengi
gawang dengan tembok magis agar tak terlalu
banyak kemasukan gol.
Hal-hal semacam itu memang bisa
menggetarkan, sampai pada seseorang
menggengam pengertian bahwa itu bukan magis
karena bisa diurai juga oleh ‘ilmu pengetahuan
bisa’, meskipun belum pernah diartikulir oleh
wilayah keilmuan kita. Seperti juga kemenyan
dipilih untuk mengundang ‘rekan-rekan dari
dunia lain’. Seperti juga ada ramuan daun dan
akar-akaran tertentu yang letak kodratnya
bersentuhan dengan dimensi jin. Sifat kodrati
dedaunan dan anggota alam lain ini yang
membikin seorang Shaman Indian mengalami
proses dan penggunaan alat yang berbeda
dibanding seorang dukun dayak ketika
melangsungkan hubungan diplomatik dengan
‘masyarakat luar dimensi manusia’.
Aku tidak tahu itu semua. Aku tidak mampu
menjelaskan rangka teknologis pesawat televisi,
seperti aku juga nggak becus menerangkan kata
orang hantu-hantu menyukai pohon-pohon
tertentu untuk domilisinya, atau kenapa kata
orang binatang lebih peka terhadap adanya
hantu dibanding manusia.
Aku tidak tahu itu semua, dan aku tidak tergetar
oleh itu semua. Sampai akhirnya seorang yang
lain menanyakan kenapa gula itu manis dan
kenapa garam itu asin.
Ini menggetarkan bukan karena pertanyaan ini
tergolong sebagai pertanyaan filosofis,
melainkan karena ia merangsangku untuk
membongkar kembali sikap, kesadaran dan
imanku ketika sarapan, mengunyah tahu tempe,
serta ketika memeras keringat bagaimana
memperoleh dua tiga potong tahu tempe di
tengah kehidupan yang sudah begini megah dan
pintar.
Dalam perjalanan pembongkaran itu aku
bertemu tidak saja dengan ide penciptaan
makanan tahu, dengan para tukang bikin tahu
yang menginjak-injak bnatalan kristal kedelai,
tentang petani garam yang tersingkir di Madura,
tentang tebu tanam paksa jauh sesudah jajahan
Belanda — tapi juga dengan prototanisme dan
kapitalisme, dengan marxisme kuno maupun
marxisme mode baru, yang semuanya memang
tidak pernah sempat bertanya kenapa gula itu
manis dan kenapa garam itu asin.
Pertemuan dengan hal-hal besar itu juga tidak
menggetarkan, sebab ‘nafsu’ku kemudian – yang
menggetarkan – hanyalah bagaimana
memperbanyak orang gila yang bersedia
menanyakan kepada dirinya sendiri kenapa gula
manis kenapa garam asin.
Kata dosen filsafat, itu immanent. Kata Ustadz
itu termasuk qadla dan qadar. Kalau engkau
bertanya kepada pelawak ludruk ia akan
menjawab – “Lha kalau yang manis hanya
keringat di ketiakmu, siapa mau minum teh
manis?” Persis seperti ketika mereka menjawab
kenapa Tuhan meletakkan hidung di bawah mata
dan di atas mulut – “Sebab kalau ditaruh di
bawah pinggang sebelah belakang, ‘kan…..”
Adapun, kata sahibul hikayat, tak hanya gula
yang manis, tapi gula pasti manis. Tak hanya
garam yang asin, tapi garam pasti asin.
Dan sastrawan kita itu menarik napas dalam-
dalam – “Itu mistis” katanya, “Gula itu kok
manis, ya mbok sekali-sekali gula itu asin, atau
garam yang manis…”
Bisa saja, Mas. Kita bikin konvensi baru manis
kita sebut asin, asin kita sebut manis. Atau gula
kita sebut garam, garam kita sebut gula. Itu kan
cuma soal nomenklatuur . Kata seni bisa kita ganti
daki , kata intelek kita ganti panu.
Tapi yang ini tetap terasa begini, dan yang itu
tetap terasa begitu. Adakah ini awal dari sejarah
alam semesta? Atau kah ada sesuatu yang lebih
konkret, lebih wenang, di belakangnya?
Sebelumnya?
Ilmu pengetahuan mandeg di situ. Karena ilmu
pengetahuan hanya menyelidiki. Menyelidiki,
dengan jarak. Menyelidiki garam, menyelidiki
asin. Ilmu pengetahuan tidak mengalami. Ilmu
pengetahuan tidak menyatukan diri dengan yang
di belakang garam dan di belakang asin.
Asin tidak bisa di- report, diinformasikan,
diartikulir, diterjemahkan. Engkau tidak bisa
memberitahukan kepada seseorang yang
lidahnya hampa dari radar rasa bagaimana rasa
asin. Ia harus mengalaminya sendiri.
Demikian pun Allah. Demikian pun Allah
Seorang Pendeta menodongku dengan
mengemukakan – “Kita terus terang saja, bahwa
dalam agama apa pun wahyu itu tidak ada.
Qur’an itu karangan Muhammad, meskipun aku
memaklumimu bahwa untuk konteks
penggembalaan umat engkau mengatakan yang
berbeda”.
Tentu saja aku tidak bersedia menyeret diri
untuk memperdebatkan dengannya pembuktian-
pembuktian sejarah wahyu, dengan kecanggihan
ilmiah yang paling mutakhir pun Aku tidak
bersedia membuang waktu memperdebatkan
rasa asin dengan seseorang yang tidak
mengalami asin di lidahnya

Demokrasi dan egomania

Demokrasi dan ‘Egomania’
Oleh MUHAMMAD AINUN NADJIB • 12 Juli 2014
Dipublikasikan dengan tag Esai
Share:
Facebook
Twitter
Google+
Saya menduga keras bahwa secara ilmu bahasa,
istilah ‘egomania’ tampaknya tak bisa
dibenarkan. Tetapi saya tidak sanggup
menjumpai idiom lain untuk mewakili apa yang
hendak saya jelaskan.
Ialah suatu kondisi
mentalitas di mana ‘kosmos
kepribadian’ seseorang
hampir seluruhnya diisi
oleh hanya dirinya sendiri.
‘Dirinya sendiri’ itu
mungkin lebih gamblang
kalau saya sebut ego-
pribadi, atau bahasa umum
menyebutnya ‘interest pribadi’. Idiom yang saya
gunakan itu memakai kata ‘mania’ untuk
menerangkan kadar kepenuhan interest pribadi
itu di setiap sepak terjang seseorang. ‘Stadium
tinggi’ egoisme itu membuat orang tersebut tidak
memiliki aktivitas sosial, karena setiap perilaku
‘sosial’nya sesungguhnya merupakan aktivitas
pribadi. Dengan kata lain, seluruh dunia ini,
orang lain, lingkungan, fasilitas-fasilitas
kehidupan, hanyalah ‘bagian’ dari egonya.
Anda boleh membayangkan jika —misalnya—
negara, partai politik, lembaga-lembaga sosial,
rakyat, tanah, hasil bumi, atau lebih eksplisit:
institusi Ikadin atau AAI umpamanya hanyalah
bagian dari egoisme atau interest pribadi-
pribadi.
Sesungguhnya Anda boleh percaya bahwa hal
demikian sudah merupakan pemandangan
‘lumrah’ di sekitar kita. ‘Pancasila’, ‘Islam’,
‘Kesatuan dan Persatuan’, ‘Manusia Indonesia
Seutuhnya’, ‘Konstitusi’, atau apapun, amat
sering diucapkan tidak sebagai kebenaran diri
idiom-idiom itu sendiri, melainkan sebagai alat
dari proyek interest-interest pribadi. Pancasila
seringkali hanyalah berfungsi instrumental,
sedang yang substansial adalah ‘egomania’.
Sesungguhnya pula, jika Anda memasuki hakekat
realitas dunia perpolitikan — dalam konteks
sempitnya maupun konteks luasnya —
pandangan mata Anda insyaallah akan
bergelimangan egomania. Lantas Anda akan juga
merasa tergetar apabila menyaksikan betapa
batu cadas egomania itu dikonstruksikan dengan
pilar-pilar kekuasaan politik, fundamental-
fundamental beton persenjataan, serta dinding-
dinding tebal kulturalisme dan ‘birokratisme’.
Jika sebuah komunitas, atau setidaknya sebuah
organisasi, mengalami keretakan: Anda silahkan
bersangka baik bahwa itulah mekanisme
demokrasi. Itulah potret pluralitas di mana
perbedaan pendapat dan kehendak boleh
dipergunakan.
Akan tetapi jika kemudian Anda menjumpai
bahwa itu bukanlah perbedaan pendapat tentang
kebenaran, melainkan benturan kepentingan-
kepentingan ‘egomania’, persilahkanlah hati
nurani Anda menitikkan air mata.
Apalagi jika cara untuk berbeda yang dipakai
oleh kaum intelektual, priyayi modern,
pengemban prinsip hukum, serta teladan bagi
jutaan rakyat yang selalu dituduh ‘buta hukum’
— persis dengan cara para korak atau gali
membenturkan perbedaan.
Kita adalah manusia modern yang tak tahu diri.
[]
Pernah dimuat di Rubrik Wall Pass, Yogya Post,
Jumat Pon, 3 Agustus 1990
Dokumentasi Progress

Dari bedug sampai anjing

Hal Tajdid: Dari Bedug sampai
Anjing
Oleh MUHAMMAD AINUN NADJIB • 27 Januari 2014
Dipublikasikan dengan tag Esai
Share:
Facebook
Twitter
Google+
Seorang Muballigh muda Muhammadiyah pernah
datang ke desaku untuk tampil secara
mengagumkan dan mempesona dalam suatu
pengajian. Dengan nada keras, penuh semangat
dan kefasihan, ia menyodorkan kejutan-kejutan.
Diuraikan tentang
keharusan membawa
kembali Islam seperti
aslinya ajaran Muhammad
Shallallahu’alaihi
wasallam. Khurafat,
tahayul, bid’ah, musti
dibuang jauh-jauh. Dan
lagi, memeluk agama itu
mustilah dengan menggunakan akal, tak asal
taqlid membabi buta saja, sebab akallah yang
membedakan kita dari segenap binatang.
Pasal pertama yang dibenahi ialah arah
menghadap ketika salat. Bikinlah garis shaf
dalam masjid kira-kira 24 derajat condong ke
utara, agar kita salat menghadap ke Ka’bah,
bukan ke negeri Somalia. Kemudian soal bedug:
untuk apa itu? “Sekarang ini setiap hidung
punya jam”, katanya. Lantas, soal puji-pujian
musikal antara adzan dan iqomah. Lantas soal
koor wirid sehabis salat jamaah. Kemudian
sekian hal lagi yang menyangkut perilaku
keagamaan sehari-hari.
Terkejutlah sekalian penduduk desa, dan merasa
begitu kotor karena ternyata selama ini
melakukan hal-hal yang mungkin tak diridhai
Allah. Memang, tajdid pasal pertama Muballigh
kita ini, tidak ilmiah; ia tak bawa kompas,
sehingga tak tahu bahwa posisi desaku memang
sudah persis terarah agak miring ke utara, jadi
persis menghadap Ka’bah, juga masjidnya. Ini
tentulah kekhilafan kecil: Muballigh kita terlalu
bergantung pada common-sense, lupa pada
keperluan “formal-survey” yang ilmiah.
Namun percayalah, bahwa kata-kata “ilmiah”
atau “rasional” merupakan “bayang-bayang
baur” di benak orang-orang desaku, sehingga
kegagalan pasal pertama itu tak berarti gagalnya
usaha tajdid yang ia lakukan. Sejak itu, perlahan-
lahan bedug dicopot, dipakai kayu bakar dan
kulitnya dimasak. Puji-pujian stop dan koor
wirid lenyap. Orang-orang tua berwirid sendiri-
sendiri, sementara anak-anak muda dan anak-
anak kecil menyelenggarakan tradisi lamcing :
habis salam, plencing pergi.
Tak Bisa Berpicing Mata
Sayang sekali Muballigh kita itu cukup sekali saja
datang ke desa untuk membawa “SK Tajdid” dari
Pusat itu. Hampir tak ada proses internalisasi
lebih lanjut yang melibatkan para penduduk
perihal pemurnian Islam, menggasak bid’ah,
khurafat, tahayul dan seterusnya, dalam arti
suatu internalisasi di mana mereka diajak untuk
aktif rasional.
Apa yang kemudian terjadi, adalah situasi
“yaskhor qoumun min qoumin” dalam suatu iklim
yang “politis”. Pertarungan bendera antara
Muhammadiyah dengan NU berlangsung dengan
lucu, naif, jumud dan memalukan, sehingga
biarlah terkubur di gundukan-gundukan tanah
masa silam. Yang mungkin agak kurang
menyedihkan untuk dikisahkan ialah terjadinya
“reuni” sekian tahun kemudian. Karena sakit
oleh berbagai kebodohan bersama, tak krasan
oleh banyak retak-sosial yang begitu kampungan
dan menyangkut hal-hal amat sepele, maka
bendera-bendera itu pun diturunkan. Sampai
kini, penduduk desaku hidup dalam Islam yang
tanpa embel-embel lain: meskipun tetap selalu
ada beda faham di sana-sini, tapi tak sampai
terjebak oleh formalisme-formalisme aliran,
yang bukannya salah, tetapi penduduk desaku
belum siap meng-hadapi “keorganisasian
madzhab” yang ketika sampai di desa telah
tinggal kerangka.
Kabarnya, hantu kerangka itu muncul; karena
mekanisme tajdid yang dibawa oleh organisasi-
organisasi pembaharu itu kurang diterapkan
dengan mempertimbangkan faktor-faktor
sosiologis-kultural masyarakat yang berbeda-
beda. Faktor itu yang menunjukkan kepada kita
bagaimana persuasi yang diperlukan untuk
mereduksi sesuatu hal dari lingkaran tradisi
suatu komunitas; bahkan seberapa benar sesuatu
itu perlu direduksi atau tidak. Sebab, untuk
menilai terjadi tidaknya bid’ah atau tahayul
umpamanya, kita tak bisa menilainya dengan
berpicing mata. Apalagi kita tahu persis bahwa
proses internalisasi keagamaan dalam
masyarakat tradisional seperti di desaku,
mengandung susunan-susunan saling berkait
antara berbagai unsur kompleks dalam hidup
mereka. Kita harus menatapnya dengan jeli, agar
tak terjebak oleh term berpikir yang sering kita
anggap ilmiah: membedakan sisi kehidupan
agama dari kehidupan sosial, ekonomi, budaya
dan lain-lain. Padahal, agama bukanlah sektor,
melainkan pedoman nilai dari Allah yang
memberi watak, sifat dan arah tujuan semua
kegiatan hidup kita, ya politik, ya ekonomi, ya
sosial budaya.
Kerangka di atas juga muncul, disebabkan
karena dalam tubuh suatu organisasi, biasanya
ada berlaku hukum pelunturan nilai. Artinya ada
distorsi kualitatif yang terjadi antara pucuk
dengan lapisan atau sendi-sendi di bawahnya.
Hal ini merupakan akibat yang khas dari
aksentuasi sikap kita untuk menjadi “tabi’iin”
atau “taabi’it-taabi’iin” belaka dan kurang
mengaktivisir keharusan-keharusan lain,
umpamanya untuk biasa berpikir sendiri,
menimbang-nimbang sendiri dan seterusnya
dalam menginternalisasi Islam. Ada begitu
banyak afalaa ta’qiluun, afalaa fatadabbaruun,
afalaa tatafakkaruun, namun ma’rifat kita belum
terbuka benar. Bukan terutama karena Allah
belum berkenan membukanya, tapi kita
umumnya memang kurang berminat sungguh-
sungguh untuk membuka mata. Walaqad
yassarnal Qur’ana lidz-dzkri fa hal min-
muddakir…. — Oleh sebab itu, kita tak boleh
terkejut apabila menjumpai tak sedikit “agents of
innovation” dari suatu organisasi pembaharu
ternyata juga hanya penganut-penganut, yang
meskipun tak buta betul, tapi setidaknya tiga
perempat buta. Kalau kita mau jujur dan rendah
hati: dalam kondisi seperti itu tak mustahil di
tengah percaturan pemikiran tajdid, kita
terjebak oleh suatu isyarat Allah yang secara
verbal sesungguhnya dimaksudkan untuk orang-
orang kafir: innalladzina yujaadiluuna fii
aayaatillaahi bighairi sulfhaanin ataahum in fii
shuduurihim illaa kibrun maa humbibaalighiihi….
Sebab, kita mafhum ayat Allah bukan hanya
yang tertera verbal dalam AI-Qur’an —
“sanuriyahum aayaatina fil aafaaqi wa fii
anfusihim….” — benarkah tak mungkin kita
termasuk dalam golongan orang yang dimaksud
oleh Allah itu? Misalnya, karena tanpa kita
sadari, bahwa kita telah terlibat dalam suatu
kufuran intelektual, tertentu? Yang jelas, kita
mesti siap untuk suatu hari menyaksikan
kenyataan bahwa yang perlu ditajdid itulah yang
jadid, dan ternyata yang mujaddid itulah justru
perlu ditajdid.
Semoga, hal ini tidak terjadi, namun, baiklah kita
berwaspada, sebab segala sesuatu bisa masuk ke
dalam diri kita, juga setan dan pengaruh-
pengaruh apa pun.
Di desaku pun sangat mungkin terjadi hal
semacam itu. Atau barangkali kita sekaligus
mengandung kedua-duanya: yakni hal yang
perlu ditajdid serta hal yang mendorong kita
untuk melakukan tajdid. Jadi agaknya
masyarakat pertama yang mesti ditajdid ialah
diri kita sendiri, sementara semangat tajdid juga
pertama-tama mesti diri kita sendiri yang
memiliki.
Kiai Beli Anjing
Ada satu tajdid yang lucu di desaku, yang
menyadarkanku bahwa ternyata kekentalan
hubunganku dengan penduduk desa masih amat
kurang . Tersebutlah seorang Kiai yang haus
akan tajdid, sehingga selalu sibuklah ia
mengembarai berbagai lapangan faham Islam.
Sayang sekali, landasan kehausan tajdidnya
bukan suatu sikap mandiri yang mementingkan
penggunaan akal sehat dan kebersihan hati serta
keluasan wawasan. Dalam pengembaraanya itu,
ia selalu hanya terseret-seret belaka oleh satu
faham ke faham lain. Begitu terjadi berulang-
ulang, dan hasil pengembaraannya itu biasanya
langsung diungkapkan lewat khutbah-khutbah
Jumat atau pada kuliah subuh — kesempatan
satu-satunya ia bersedia bertatap muka dengan
khalayak.
Pertama menjadi bingunglah para jamaah
karena diombang-ambingkan. Tapi lama
kelamaan hal itu menjadi komedi. Orang jadi
“hapal” lagak lagu sang Kiai dan tak begitu
gampang terpengaruh. Menjelang salat Jumat,
bahkan orang-orang saling bercengkerama dan
meramal apa kira-kira yang akan diomongkan
oleh sang Kiai. Hal yang digasak adalah hal yang
biasanya kemarin didukung. Apa yang hari ini di
gembar-gemborkan, bulan depan mungkin akan
digasaknya kembali. Dari satu sudut: itulah
potret dari semangat pembaharuan yang
dinamik, penuh gelombang dan kontinyu. Tapi
dari sisi lain, itulah gambaran dari sebuah
pribadi yang mengembara di atas udara, tanpa
pijakan, tanpa akar dan tanpa aktivitas akal
sehat dan kematangan kejiwaan.
Memang jamaah tak begitu terpengaruh, tapi
untuk hal-hal yang menyangkut “gengsi
modern”, orang desa amat gampang terseret.
Merangsang mereka untuk mengkonsumsi
“identitas-identitas kemodernan”, semudah
makan kacang bakar. Jadi ketika berkat suatu
usaha tajdid, sang Kiai membeli dan memelihara
anjing, maka segera inovasi ini diikuti oleh
puluhan orang. Hari ini di satu jalur jalan saja
ada kira-kira 40 anjing. Memelihara anjing itu
betul-betul kenikmatan baru: “Kayak yang di tv!”
Ini suatu ironi besar, karena dulu penduduk desa
adalah pembenci, bahkan pembunuh anjing. Ada
seekor saja nongol di desa, mampuslah ia.
Aku sendiri belum memberi tanggapan cukup
jauh terhadap hal ini, karena harus ditemukan
persuasi yang tepat untuk membereskan sesuatu
di desa. Aku tidak anti anjing, tapi ada konteks
yang tak beres dengan tajdid peternakan anjing
itu.
Suatu hari, aku mengobrol saja dengan salah
seorang penduduk. Hakim paling kuat untuk
Muslim desaku ini ialah ukuran halal-haram.
“Kata Pak Kiai memelihara anjing itu tidak
haram,” ungkapnya. Jadi itulah sumbernya.
Kucoba kemukakan kepadanya: memelihara
anak yatim itu bukan hanya tak haram, bahkan
penuh pahala dan keluhuran. Padahal biayanya
tak lebih mahal dari memelihara seekor anjing,
sementara seorang anak yatim bisa memberi kita
manfaat dan kekayaan spiritual yang tak bisa
kita peroleh dari buih mulut anjing. Memelihara
anjing memang boleh-boleh saja, seperti juga kita
boleh siang hari bolong merangkak dari gardu
sini sampai ke depan rumah Pak Lurah di ujung
sana. Tapi, agama bukan sekedar soal boleh dan
tak boleh. Halal-haram itu garis batas, yang tidak
kita injak atau harus kita hindari. Seperti main
sepakbola, ada garis pinggir, ada garis untuk
penalty dan offside, juga tangan kita termasuk
“daerah haram” untuk bola.
Tapi, masalah sepakbola yang paling utama ialah
bagaimana bermain bola secara baik, bukan
bagaimana tak memegang bola atau berlari
menginjak garis pinggir. Garis batas itu menjadi
wilayah permainan kita, namun yang penting
ialah bagaimana mengolah suatu permainan
yang baik. Engkau tidak diharamkan main sepak
bola sambil pakai peci atau sambil makan ketela,
tetapi kita punya akal yang mengukur manfaat
dan mudharat. Untuk itu, maka kita bermain
pakai celana pendek dan bukan sarung.
Memahami mana garis batas dan liku-liku
peraturan main bola tidak sukar, dan yang
terutama kita usahakan bagaimana mentalitas
bermain, bagaimana teknik dribbling pribadi
serta metode kerjasama sosial, bagaimana
menemukan “taqarrub” terhadap gawang secara
baik sehingga kita menang dan gol kita ciptakan
dengan menggetarkan jaring-jaring surga. Itulah
sepakbola hidup.
la kemudian mengemukakan anjing itu nanti
bisa dijual kembali dengan harga yang lebih
mahal. Jadi pertimbangan ekonomi. Maka
kuingatkan bahwa kita dulu punya tradisi ternak
kambing — kerbau — sapi. Sekarang ini,
kambing atau sapi lebih menguntungkan
dibanding anjing. Dan lagi, apakah penduduk
desa kita ini akan menjadi pendorong
pertumbuhan manusia-manusia pemakan
anjing? Baiklah teruskan dan kelak orang di sana
berkata: Di mana cari anjing untuk pesta kita? O,
di Mentoro pusatnya!
Tapi ia kemudian mengemukakan soal segi
keamanan. Anjing cepat memberitahu kita kalau
ada pencuri. Apakah engkau melatihnya untuk
itu? Tidak. Dan orang-orang lain? Tidak juga.
Kukemukakan kepadanya bahwa seorang Muslim
yang Islamnya baik Insya Allah terhindar dari
bahaya seperti itu. Setiap saat, nafas dan detak
darah kita bisa kita biasakan memohon kepada
Allah, “ Bismillahi laa yadhurru ma asmihii syaiun
fil-ardhi walaa fissamaa-i wahuwassamii
‘ul-‘aliim.” Tirulah Ayyub yang berkata, “Innii
masanidha-dhurru wa-anta arhamur-roohimiin”.
Semoga Allah pun berkehendak fastajabnaa
lahuu, fakasyafnaa maa bihii mindhurrin . Atau,
kenapa tak kita lingkari lingkungan hidup kita
dengan ayat Kursi atau banyak sekali ayat
lainnya? Kita sudah baca shalawat untuk Nabi
tiap hari, bukan? Nah, kita perbanyak jumlahnya
dan kita perdalam kekhusyukannya. Semoga
Nabi pun mengirim salam kepada kita karena
beliau adalah “….rasuulunmin-anfusikum aziizun
‘alaihi ‘anittum hariitsun ‘alaikum bilmu’miniina
ra’uufur-rahiim….” Atau dengan begitu banyak
lainnya Ayatullah yang maha sakti, yang apabila
ia dibacakan maka “….suyyiratbihil-jibaalu au
quthi’atbihil-ardhu au kullima bihilmautaa….”
Tidak percayakah Saudaraku akan kesaktian
mukjizat AI-Our’an? la tidak hanya sakti segi
kesastraannya saja, tapi juga sakti dan maha
benar segala dimensinya. la adalah karya Allah,
sehingga segala yang difirmankanNya laa raiba
fiihi . Bahkan api tak membakar Ibrahim, bahkan
hujan diperkenankan turun oleh Istisqa’ kita
bersama. Tak ada yang mustahil bagi-Nya. Kalau
ia mau: “….maa amarnaa illaa waah idafun
kalahmin bil-bashor….”
Cuma, kita bukan makhluk manja. Kita bukan
pengemis yang tak punya otak atau rasa malu.
Untuk urusan kacang goreng atau masalah —
masalah rasional kecil lainnya tentulah kita
bereskan sendiri secara manusia.
Kita tidak lantas meminta agar segala urusan
kita Allah yang mengurusnya. Kita bukan anak
sekolah yang kurang belajar maksimal dan
hanya mengandalkan doa dan sesudah terkabul
lantas lupa bersyukur.
Dan lagi, segala sesuatu ada syaratnya. Kita tidak
bisa hanya mentamengi diri dengan mukjizat AI-
Qur’an apabila secara keseluruhan AI-Qur’an tak
kita laksanakan nilainya. Tanpa mematuhi AI-
Qur’an berarti AI-Qur’an “enggan” menyatu
dengan kita, atau kita tak cukup bersih untuk
menyatukan diri dengan AI-Qur’an, dan dengan
demikian kita juga tak bisa menghayati kesaktian
ijaznya. Kesaktian magis puncak ayat AI-Qur’an
itu ibarat genteng yang melindungi seisi rumah
kita dari hujan. Artinya, kita tahu bahwa genteng
tak bisa kita taruh di udara. Mesti kita bangun
fundamen, dinding, kayu penyangga genteng itu,
serta tiang pusat. Nah, kukemukakan kepada
Saudaraku di desa itu bahwa umumnya kita di
desa ini sudah cukup membangun fundamen,
tiang pun sudah cukup berdiri, tinggal kita
sempurnakan kekuatannya semua, sehingga bisa
kita taruh genteng untuk melindungi kita dari
hujan. Jika demikian, maka Insya Allah kita
bukan saja terhindar dari pencuri ayam, tapi
juga segala pencuri yang lebih bermutu, bahkan
dari sihir dan fitnah. Kenapa tidak? Allah Maha
Benar bahwa Dia Maha Melindungi. Cuma
barangkali saja di dalam diri kita ayat-ayat Allah
itu masih berupa tumpukan genteng yang
mubazir, karena kita tak menggunakan
hikmahnya.
Saudaraku itu termangu-mangu. Ketika itu Ashar
segera tiba dan kami beranjak sama-sama ke
surau.
Dok: Progress. Pernah dimuat di Panji
Masyarakat No. 415 Tahun 1983

Hancurkan kebinatanganku

Hancurkan Kebinatanganku
Oleh MUHAMMAD AINUN NADJIB • 3 Februari 2014
Dipublikasikan dengan tag Esai
Share:
Facebook
Twitter
Google+
Pada setiap raka’at sembahyang yang tanpa
duduk tahiyat, Anda memerlukan tahap transisi
ruku’ dari qiyam menuju posisi sujud. Tapi
kemudian dari posisi sujud ke qiyam, Anda
melakukannya langsung tanpa ruku’ .
Ini acuan pertama.
Acuan kedua adalah
pertemuan Anda dalam
shalat dengan beberapa
karakter atau sifat Allah
Swt. Ini berdasarkan
kalimat-kalimat yang Anda
ucapkan selama melakukan shalat.
Pertama, tentu saja Allah yang Akbar . Lantas ia
sebagai Rabbun . Selanjutnya, Rahman dan
Rahim . Kemudian hakekat kedudukannya
sebagai Malik . Dan akhirnya Allah yang ‘Adhim
dan A’la .
Kedudukan Allah sebagai Akbar atau Yang Maha
Lebih Besar (Ia senantiasa terasa lebih besar,
dinamis, tak terhingga, seiring dengan pemuaian
kesadaran dan penemuan kita) — kita ucapkan
untuk mengawali shalat serta untuk menandai
pergantian tahap ke tahap berikutnya dalam
shalat.
Artinya, setiap langkah kesadaran dan laku kita
letakkan di dalam penghayatan tentang
ketidakterhinggaan kebesaran-Nya.
Si Maha Lebih Besar yang dahsyat itu bukannya
mengancam dengan kebesaran-Nya, melainkan
mengasuh kita melalui fungsi-Nya sebagai
Robbun .
Sebagai Yang Maha Mengasuh, Ia bersifat penuh
kasih dan penuh sayang. Rahman dan Rahim .
Penuh cinta dalam konteks hubungan individual
Ia dengan Anda, maupun dalam konteks
hubungan yang lebih ‘heterogen’ antara Ia
dengan komprehensi kebersamaan kemanusiaan
dan alam semesta.
Tapi jangan lupa Ia adalah Raja Diraja. Ia Malik ,
hakim agung di hari perhitungan. Ia sekaligus
Maha Legislatif, Maha Eksekutif dan Maha
Yudikatif.
Dan memang hanya Ia yang berhak penuh
merangkum seluruh kedudukan itu hanya
dengan diri-Nya yang Sendiri, tanpa kita
khawatirkan terjadi ketidakadilan dan
ketidakjujuran — yang pada budaya kekuasaan
antarmanusia dua faktor itu membuat mereka
menciptakan perimbangan sistem trias politica.
Kemudian karakter dan kedudukan-Nya sebagai
‘Adhim dan A’la . Yang Mahabesar (horizontal)
dan Mahatinggi (vertikal).
Yang ingin saya kemukakan kepada Anda adalah
bahwa kita menyadari-Nya sebagai A’la , Yang
Mahatinggi itu, tatkala dalam shalat kita
berposisi dan bersikap sebagai binatang.
Artinya, kalau kita menyadari kebinatangan kita,
yakni dalam keadaan bersujud: badan kita
menelungkup bak binatang berkaki empat.
Ketika kita beroperasi setengah binatang, waktu
ruku’ bagaikan monyet yang seolah berdiri
penuh seperti manusia namun tangannya
berposisi sekaligus sebagai kaki — yang kita
sadari adalah Allah sebagai ‘Adhim .
Dan ketika kita berdiri (qiyam ), Allah yang kita
hadapi adalah Allah Rahman , Rahim , dan Malik .
Binatang yang ‘ruku’ dan ‘sujud’ tidak memiliki
tradisi intelek dan kesadaran ontologis, sehingga
tidak terlibat dalam urusan dengan Maliki
Yaumiddin. Raja Hakim hari perhitungan. Kadal
dan monyet, termasuk juga virus HIV, tidak
diadili, tidak masuk sorga atau neraka.
Ketika kita ‘menjadi’ binatang atau menyadari
potensi kebinatangan diri saat sujud dan ruku’,
kedudukan subyek kita waktu itu adalah aku.
Maka kita ucapkan subhana robiiya …. bukan
subhana robbina .
Subyek ‘aku’, dengan aksentuasi egoisme,
individualisme, egosentrisme, dst lebih dekat ke
kebinatangan, dan itu yang harus kita sujudkan
ke hadapan Allah Swt.
Adapun ketika kita berdiri, ‘qiyam’, kita menjadi
manusia kembali. Dan subyek kita ketika itu
bukan lagi ‘aku’ melainkan ‘kami’. Artinya,
tanda-tanda eksistensi kemanusiaan adalah pada
kadar sosialitasnya, kebersamaannya, integritas
kanan-kirinya. Kalau binatang, secara naluriah
ia bermasyarakat, tapi oleh Allah mereka tidak
dituntut atau ditagih tanggung jawab
kemasyarakatannya. Tuntutan dan tagihan itulah
yang membedakan antara binatang dan
manusia. Itu pulalah yang menghinakan
manusia, atau justru memuliakannya.
Mungkin itulah sebabnya maka sesudah kita ber-
takbiratul ihram dan berdiri ‘sebagai manusia’,
Allah menyuruh kita untuk berlebih dahulu
menyadari kebinatangan kita dalam sujud,
melalui transisi ruku’. Nanti sesudah sujudnya
penuh, silakan langsung berdiri kembali sebagai
manusia.
Nanti menjelang Pemilu, pesta demokrasi yang
urusannya bergelimang kekuatan dan kekuasaan
di antara sesama manusia — ada baiknya semua
pihak memperbanyak sujud. Agar supaya
kebinatangan diminimalisir.
Dan semoga jangan banyak-banyak yang
bersikap sebagaimana iblis, yang menolak sujud,
karena merasa lebih tinggi, lebih benar, dan
takabbur.
Ah, nanti panjang sekali kalau saya teruskan…. []
Dimuat di Harian Republika, 31 Maret 1996, dan
terhimpun dalam buku “Keranjang
Sampah” (Emha Ainun Nadjib, Zaituna, 1998).